Strategi Implementasi Linux pada Perusahaan/Lembaga/Instansi

Note : Tulisan ini tidak bermaksud membandingkan kemampuan software. Jika ada perbandingan / ulasan mengenai software aplikasi, kesemuanya lebih ditujukan sebagai penggambaran kondisi yang sebenarnya. Penulis menggunakan open source Linux sebagai salah satu alternatif menggunakan software yang murah dan legal.
PENDAHULUAN

Beberapa tahun belakangan, perkembangan Linux di Indonesia semakin pesat dan maju, apalagi sejak diundangkannya UU hak cipta No. 19 Tahun 2002. Banyak orang ingin mencoba seperti apa Linux itu, baik untuk pribadi maupun di lingkup perusahaan atau instansi.
Di lingkungan perusahaan yang secara tradisional menggunakan produk Microsoft (baca : Windows), Implementasi Linux (dan open source) lainnya merupakan suatu perjuangan tersendiri, meski sebenarnya ditujukan untuk kebaikan penggunanya. Penulis memiliki pengalaman mengajarkan Linux pada anak SD (adik & keponakan) ternyata lebih mudah dibandingkan mengajarkan Linux pada karyawan atau siswa yang sudah terbiasa menggunakan aplikasi Microsoft.
Dalam banyak kasus, implementasi Linux lebih mudah diterapkan pada perusahaan yang masih manual dalam mengerjakan administrasinya. Jika sebelumnya menggunakan mesin tik atau tulisan tangan, penetrasi Linux akan jauh lebih mudah dibandingkan jika ingin menggantikan produk Microsoft yang sudah bertahun-tahun digunakan.
Pada posisi ini, sering timbul dilema dalam penerapan Linux. Perusahaan ingin menghemat biaya namun disisi lain terbentur pada kesulitan sumber daya manusia yang belum familiar dengan Linux. Perusahaan, dalam beberapa segi dan alasan tertentu juga ingin tetap menggunakan produk Microosft namun terbentur pada biaya lisensi.
Jika anda seorang yang menduduki posisi Staff IT (EDP, MIS), bisa timbul benturan kepentingan dan mungkin juga perbedaan pendapat jika ingin melakukan implementasi Linux. Kesulitan akan lebih besar jika anda adalah orang baru di perusahaan; target penerapan adalah orang yang sudah lama atau menduduki posisi yang secara hirarki lebih tinggi atau jika software Linux secara fasilitas belum dapat menandingi fasilitas software komersial.
Strategi yang ada dalam tulisan ini mengasumsikan bahwa anda ingin menerapkan implementasi Linux secara semut eh smooth , aman dan terkendali, dengan salah satu dari beberapa alasan diatas.
Strategi implementasi Linux berikut ini dapat anda coba dan semoga bisa membantu.
1. Buat Renstra (Rencana Strategis)
2. Tentukan Proritas
3. Berikan Sosialisasi
4. Lakukan dari sisi Server
5. Implementasikan pada komputer public
6. Gunakan Windows dari Linux
7. Implementasi Penuh

1. Buat Renstra
Rencana strategi perlu dibuat mengingat implementasi Linux diperusahaan memerlukan dukungan dari top management. Sebelum anda melangkah pada tahapan implementasi, yakinkan top management atau atasan anda bahwa Linux penting dipertimbangkan. Uraikan hal-hal sebagai berikut :
* Berikan penjelasan mengenai penerapan Undang-Undang Hak Cipta (HAKI)
Bagi perusahaan, ketaatan pada Undang-Undang & hukum adalah sesuatu yang harus dilakukan. Bagi pribadi atau rumahan mungkin akan berpikir mengenai ‘tidak terjangkau’ oleh HAKI, namun untuk perusahaan cara berpikirnya akan didasari pada kelancaran operasional dan sanksi yang menimpa jika tidak mengikuti Undang-Undang.
* Berikan opsi / pilihan, jangan membuat fait accompli
Fait Accompli berarti menentukan keputusan lebih dahulu baru meminta persetujuan. Jika anda menyatakan bahwa “Gunakan Linux kalau tidak ingin kena denda”, situasi yang akan muncul adalah situasi menang-kalah. Akan lebih baik & lebih nyaman jika kita menggambarkan pilihan yang dapat diambil dan membiarkan perusahaan yang memilihnya.
Pilihan yang ada terdiri dari :
1. Tetap menggunakan software komersial, membayar lisensi (biaya tinggi). Berikan daftar biaya yang diperlukan sampai pada rincian lisensi. Misalnya jika menggunakan software A, untuk digunakan pada satu komputer memerlukan biaya X rupiah.
2. Dual Sistem, sebagian menggunakan software komersial, sebagian menggunakan software open source. Berikan gambaran mengenai aplikasi apa saja yang dapat menggunakan software open source. Mengingat sebagian besar software komersial memiliki kembaran di software open source, ada kemungkinan semuanya dapat menggunakan software open source,
3. Secara penuh menggunakan software open source Berikan gambaran mengenai tahapan yang dapat dilakukan dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
Secara umum, pilihan yang paling feasible adalah pilihan kedua. Pada tahap akhir, pilihan kedua akan menjelma menjadi pilihan ketiga.
* Buat Proyek implementasi
Proyek ini memuat tahapan yang akan dilakukan, hal-hal yang harus dipersiapkan (pelatihan untuk staff IT, instruktur dan posisi kunci) dan contingency planning. Bagi kedalam rencana jangka pendek, menengah dan jangka panjang.
2. Tentukan Prioritas
Tentukan proritas implementasi open source yang akan dilakukan. Buat list / catatan mengenai aplikasi yang digunakan dan cari padanannya di open source. Setelah itu tentukan skor prioritas.
3. Berikan Sosialisasi
Sosialisasi mengenai Linux perlu dilakukan agar pengguna tidak kaget saat menerapkannya. Sebagian besar perusahaan sudah pernah mendengar mengenai Linux dan bagian terbesar dari bagian terbesar tadi (bingung khan ) mendengar bahwa Linux itu sulit.
Berikan contoh kemudahan yang didapatkan lewat Linux. Contoh paling mudah adalah penggunaan internet dan email via Linux.
Beberapa waktu yang lalu (sebelum saya intens dengan Linux), saya pernah diberikan penjelasan tentang Linux. Saya diberi penjelasan mengenai Kernel dan semacamny. Bukannya tambah mengerti, saya malah merasa bahwa Linux itu semakin sulit dan rumit.
Berikan penjelasan dengan bahasa yang sederhana. Jangan menganggap bahwa orang lain / pengguna payah dan (maaf) bodoh karena tidak mau mengerti soal Linux. Saya sendiri, meski pada kenyataannya saya bodoh, saya tidak akan terima dikatakan bodoh. Ya khan .
Biasanya ini bisa terjadi jika kita sudah berkali-kali memberikan penjelasan tapi pengguna masih tidak mengerti. Daripada kita berdebat dan berselisih mengenai migrasi sistem, lebih baik kita mengalah dan menurunkan tingkat sosialisasi yang diberikan. Jika tujuan yang kita inginkan dapat tercapai, kita tidak perlu berdebat lebih panjang lagi.
Jika sudah terbiasa, tidak apa-apa pengguna diberi penjelasan mengenai hal-hal yang lebih serius.
4. Lakukan dari Sisi Server
Berdasarkan pengalaman, Implementasi dari sisi Server jauh lebih mudah karena dilakukan secara back-end bukan front-end. Pengguna tidak akan merasakan perbedaan penggunaan email meski Server email diganti dari Exchange Server menjadi Sendmail, Qmail atau Postfix. Pengguna juga tidak akan keberatan seandainya Web Server diganti dari Internet Information Services (IIS) menjadi Apache. Pengguna ngga tahu kok, hehehe… Jangan-jangan yang keberatan malah staff IT karena jadi tambah kerjaan ;-D.
Linux terkenal dari segi keamanan dan stabilitas sistem. Digunakan oleh banyak ISP yang harus menangani banyak transaksi dan berbagai perusahaan besar sebagai aplikasi back end. Jika ingin menggunakan Linux sebagai server email dan web server, tidak perlu khawatir mengenai kwalitas stabilitas sistem dan keamanannya.
Implementasi dari sisi server dapat dilakukan dengan cara menentukan proritas implementasi open source yang akan dilakukan. Buat list / catatan mengenai aplikasi yang akan diuji coba dan lakukan dulu dalam lingkup yang lebih kecil (internal departmen IT misalnya).
5. Implementasikan pada komputer public
Jika di perusahaan ada komputer yang dijadikan sebagai komputer umum / public / digunakan bersama-sama, ini merupakan target implementasi yang tepat setelah penggunaan disisi server berjalan lancar. Instalasikan sistem Linux di komputer umum dan monitor feed back dari pengguna. Jangan lupa, berikan semacam manual book kepada pengguna .
6. Gunakan Windows dari Linux
Jika perusahaan memiliki aplikasi yang dijalankan di Windows dan sudah mengeluarkan biaya besar untuk pengembangannya, kita tetap dapat menggunakan aplikasi tersebut meski menggunakan Linux. Gunakan kolaborasi Windows Terminal Services dengan Linux model Thinstation. Penjelasan mengenai penggunaan aplikasi Windows dari Linux dapat dibaca pada website ilmukomputer.com pada kolom penulis Romi Satria Wahono & M. Choirul Amri. Selain menggunakan model thinstation, kita juga dapat menggunakan Wine (Wine is not an Emulator) winehq.com, sebuah aplikasi yang melakukan emulasi (meski Wine sendiri bilang bahwa dia bukan Emulator ) aplikasi windows didalam Linux. Penulis sendiri sukses menjalankan aplikasi Microsoft Office 97 dengan sistem Linux Red Hat 9. Alasan penggunaan aplikasi Microsoft Office 97 lebih pada tingkat kebutuhan memory yang lebih rendah dibandingkan aplikasi Microsoft Office 2000 dan XP. UPDATED : Office 2000 dan XP berjalan stabil pada Linux menggunakan Wine.
7. Implementasi Penuh
Jika semua tahapan telah dilakukan dan dievaluasi hasilnya secara simultan dan periodik, penerapan Linux akan menghasilkan resistensi yang minim dan dapat berjalan tanpa hambatan yang berarti.
Hal ini telah penulis terapkan dilingkungan kerja dan sudah mengalami fase trial & error yang cukup lama. Semoga hal ini dapat diterapkan di lingkup yang lain dengan masa penerapan yang lebih singkat, apalagi dengan dikeluarkannya distro Linux terbaru (saat ini penulis menggunakan distro Linux Mandrake 10) yang telah memberikan display grafis cantik dan menarik.
Jika kita mau mencatat hal-hal yang terjadi selama proses implementasi Linux, kita akan menemukan bahwa pengetahuan kita bertambah dengan pesat, karena kita bukan lagi model pengguna apa adanya, melainkan juga pengguna yang memahami alur proses.
Bagi perusahaan, implementasi Linux dapat membantu efisiensi biaya teknologi informasi tanpa ada penurunan kwalitas layanan. So, mengapa tidak mencoba Linux ?


Sewa Ruang Kantor Jakarta Murah - Ultrabook Notebook Tipis Harga Murah Terbaik

Memindahkan Server Linux Fisik Menjadi Server Virtual

1 pekan menjelang akhir tahun 2009 saya mendapat telepon dari salah satu klien di daerah Jakarta. Pesannya singkat, servernya mengalami problem, ada service yang tidak berjalan sebagai mana mestinya (service Samba PDC+OpenLDAP).
Setelah masalah bisa diatasi, ia menanyakan apakah mungkin jika server fisiknya dipindah menjadi server virtual sehingga ia lebih mudah mengelolanya, terutama jika ia ingin melakukan proses backup & restore sistem secara mudah.
Baca-baca literatur, model pemindahan ini biasa dikena dengan istilah P2V, alias Physical To Virtual. Prosesnya bisa menggunakan VMWare Converter yang gratis untuk digunakan (versi enterprise memiliki lisensi komersil tapi versi open source juga cukup kapabel). Awalnya saya berencana menggunakan VMWare Converter ini namun karena saya tidak memiliki VMWare ESX atau VMWare server untuk menampung hasil transfer, saya akhirnya memilih cara manual menggunakan distro Linux CloneZilla dengan bantuan VMWare Workstation.
Caranya adalah sebagai berikut :
CloneZilla Start Up Menu


Transfer Harddisk Fisik ke Bentuk Image
  1. Siapkan harddisk yang akan dijadikan penampung image sistem hasil transfer CloneZilla. Karena harddisk fisik berkapasitas 250 GB, saya mempersiapkan harddisk penampung sebesar 500 GB, meski nyatanya space yang dibutuhkan tidak sebesar itu.
  2. Download CloneZilla LiveCD. Burn menggunakan CD burner.
  3. Hidupkan server dengan posisi CloneZilla LiveCD sebagai prioritas utama karena kita akan berjalan menggunakan LiveCD CloneZilla
  4. Setelah booting, pilih menu Device-Image Work with disk or Partitions using Images karena kita akan menyimpan duplikat harddisk menjadi image untuk disimpan di harddisk kedua
  5. Kita bisa memilih harddisk kedua sebagai lokasi penyimpanan. Anyway, kita juga bisa menyimpan image ke network share, apakah melalui Samba atau NFS ataupun SSH
  6. Setelah proses transfer selesai, simpan file image ke lokasi tertentu
Konversi Image Menjadi Harddisk Virtual
  1. Buat virtual machine menggunakan model virtual yang diinginkan. Saya menggunakan VMWare Workstation karena imagenya saya simpan di harddisk fisik. VMWare Workstation memiliki kelebihan, yaitu mampu melakukan mounting harddisk atau partisi fisik menjadi harddisk virtual. Buat dua buah harddisk. Yang pertama adalah harddisk virtual kosong sebesar kapasitas harddisk fisik yang akan diimport. Saya menyiapkan harddisk virtual sebesar 250 GB dalam modus dinamis sehingga jumlah space terpakai tidak langsung sebesar itu. Harddisk virtual kedua merupakan harddisk 500 GB yang berisi image hasil transfer CloneZilla
  2. Jalankan mesin Virtual dengan posisi CloneZilla LiveCD sebagai posisi start up utama
  3. Saat CloneZilla masuk ke menu utama, pilihlah pilihan Restore image, dan mount harddisk yang berisi image. CloneZilla semestinya langsung mengenali hasil convert yang ada di harddisk tersebut
  4. Lakukan proses kebalikan dari sebelumnya, yaitu sekarang melakukan proses import dari image menjadi harddisk virtual
  5. Setelah selesai, kita bisa langsung melakukan booting menggunakan harddisk virtual hasil transfer. Harddisk virtual kedua yang berisi file image bisa di remove, CloneZilla LiveCD bisa dikeluarkan
Catatan Khusus :
  1. Proses yang saya lakukan agak sedikit complicated karena harddisk yang saya transfer merupakan harddisk tipe RAID-1 sehingga setelah semuanya selesai dan saya  coba  booting, sistem openSUSE 11.1 64 bit yang ada didalamnya menanyakan posisi harddisk kedua (Raid-1 /dev/md0). Setelah mengubah grub agar booting melalui /dev/sda1, saya bisa booting dengan sukses dan kemudian mengubah grub secara permanen melalui YAST | System | Bootloader. Proses ini semestinya tidak diperlukan jika sistem virtual yang ditransfer tidak menggunakan sistem RAID
  2. Server fisik yang saya transfer menggunakan openSUSE 11.1 64 bit berisi Samba PDC + OpenLDAP. Sistem ini saya transfer menjadi mesin virtual dengan host openSUSE 11.2 64 bit
  3. Saya menggunakan VMWare Workstation 6.5.3 64 bit. Beware, VMWare Workstation merupakan produk komersil dari VMWare. Untuk image hasil transfer dalam bentuk file vmdk dapat saya jalankan pada VirtualBox 3.1.2 64 bit
  4. Cara diatas mestinya dapat dijalankan pada mesin 32 bit tanpa perbedaan cara yang terlalu besar.


Sewa Ruang Kantor Jakarta Murah - Ultrabook Notebook Tipis Harga Murah Terbaik

5 Alasan Mengapa Staff IT Kurang Dihargai Staff Lain/Atasan Sendiri

Sebagai salah satu posisi yang cukup penting di perusahaan, seorang staff IT biasanya memiliki posisi tawar yang cukup tinggi dibandingkan dengan staff lain. Hal ini bukan berarti staff-staff dari bagian lain kurang penting melainkan karena dalam beberapa hal, staff IT mengelola beberapa aturan yang digunakan oleh staff yang lain.
Meski secara posisi cukup penting, adakalanya kita menemukan staff IT yang kurang dihargai oleh rekan-rekan dari bagian yang lain, bahkan juga oleh atasannya sendiri. Saat menemani para peserta training di Excellent makan siang, ada beberapa staff IT yang bercerita bahwa ia kerap kesulitan jika mengajukan suatu permintaan pembelian hardware pada atasannya. Banyak yang mengalami kendala operasional sistem (server dijalankan di mesin jangkrik alias ecek-ecek, tidak ada mesin backup, spesifikasi komputer rendah dll) yang menurut mereka disebabkan oleh ketidakmauan perusahaan melakukan investasi dibidang IT.
Yang lebih parah, staff IT tidak dihargai oleh rekan dari bagian yang lain dan dianggap sebagai pelengkap saja. Bentuknya bisa dalam berbagai bentuk, mulai dari diminta melakukan berbagai pekerjaan remeh temeh hingga dimarahi karena menerapkan suatu aturan yang dianggap mengurangi kebebasan staff yang lain.
Contohnya aturan akses internet untuk staff tertentu saja, pemblokiran situs-situs yang dianggap tidak relevan, pembatasan download dan non aktif instant messenger, dianggap sebagai tindakan yang mengada-ada dan potensial membuat seorang staff IT dimusuhi oleh staff bagian yang lain.
Mengapa seorang staff IT bisa tidak dihargai oleh staff yang lain atau oleh atasannya sendiri? Jika anda merasa sebagai staff IT seperti ini dan ingin berontak dari pelecehan intelektual (caelah bahasanya), silakan melakukan introspeksi beberapa hal berikut, yang saya sarikan dari pengalaman pribadi dan observasi di beberapa klien perusahaan :
  1. Kemampuan Seorang Staff IT. Ini merupakan alasan utama mengapa seorang staff IT bisa tidak dihargai oleh staff lain atau oleh atasan sendiri. Ia memang punya pangkat sebagai staff IT namun kemampuan hanya rata-rata. Jika anda menjadi staff IT namun kemampuan tidak jauh berbeda dengan staff yang lain (apalagi kalau sampai kalah), tentu tidak mengherankan jika anda kurang dihargai.
    `
    Jika anda saja sebagai staff IT suka kebingungan menghadapi persoalan, bagaimana dengan staff lain yang menginginkan agar masalah IT-nya diselesaikan oleh anda. Sebagai atasan, apa gunanya punya staff IT kalau sebagian besar pekerjaan terpaksa harus dilakukan oleh atasan.
    `
    Jika kita merupakan staff IT baru, adakalanya beberapa staff dari bagian yang lain mengujicoba kemampuan kita. Kita harus mampu menunjukkan kualitas dan kemampuan kita agar tidak dilecehkan. Tentu saja upaya untuk menunjukkan kemampuan itu tidak dalam bentuk negatif melainkan dalam bentuk yang santun.
    `
    Jika dalam bisnis ada istilah Palugada (Apa Lu Cari Gue Ada), seorang staff IT juga sebaiknya memiliki moto PaluBisa (Apa yang Lu Tanya Gue Bisa :-P ). Hal ini bisa berjalan jika kita punya kemampuan yang dibangun baik dari pendidikan, training, workshop, belajar sendiri maupun melalui sumber bacaan dari buku dan internet
  2. Kemampuan Berkomunikasi dan Berdiplomasi. Maksud dari kemampuan diplomasi adalah kemampuan melakukan komunikasi antara seorang staff IT dengan atasannya maupun antara staff IT dengan rekan dari bagian lain.
    `
    Banyak keluhan dari seorang staff IT yang mengatakan bahwa atasannya kurang menghargai usulan yang ia berikan. Keluhan lain yang kerap timbul adalah adanya penolakan terhadap pengajuan pembelian barang, investasi atau yang lainnya.
    `
    Ada kemungkinan masalahnya bukan pada besar kecilnya biaya yang mungkin timbul melainkan karena salah persepsi akibat kekurangmampuan kita sebagai staff IT dalam menguraikan manfaat dan tujuan yang ingin kita capai.
    `
    Dalam kasus lain, hubungan staff IT dengan bagian lain menjadi kurang baik akibat ketidakmampuan seorang staff IT berkomunikasi dengan bagian lain, misalnya melakukan pengubahan suatu metode atau prosedur tanpa melakukan konfirmasi dengan bagian yang terkait. Hasilnya mungkin akan berbeda jika rencana pengubahan suatu prosedur dilakukan dengan konfirmasi dan komunikasi intens terlebih dahulu
  3. Tidak Konsisten pada Peraturan. Ada pameo, “peraturan dibuat untuk para staff, bukan untuk para sysadmin”. Artinya, peraturan pembatasan atau implementasi rule tertentu dilakukan untuk membatasi staff-staff lain sementara staff IT bisa melakukan by pass semua aturan.
    `
    Contoh paling mudah misalnya pembatasan akses internet dan download. Staff lain terseok-seok dalam mengakses bandwidth sementara para staff IT berpesta pora atas bandwidth tanpa batas yang ia terima. Jika aturan ini memang terkait dengan pekerjaan, staff lain mungkin masih bisa dimaklumi, meskipun penggunaannya jangan terlalu mencolok. Jika terlalu mencolok tentu akan mengganggu rasa keadilan bersama.
    `
    Saya pernah memiliki contoh kasus lain. Salah satu aturan di tempat kerja kami adalah bahwa akses internet bisa diberikan atas rekomendasi atasan level manajer. Jika manajer menyetujui suatu akses, saya bisa meminta staff IT bagian Help Desk/Support untuk mengaktifkan aksesnya.
    `
    Ternyata pada prakteknya, beberapa staff Accounting diberikan akses meski secara rule tidak diperbolehkan. Akibat diprotes oleh staff dari divisi lain (misalnya dari divisi Warehouse atau Purchasing yang kerap berhubungan dengan Accounting dan melihat mereka secara bebas dan mencolok mengakses internet), manajer Accounting meminta penjelasan pada saya mengapa mereka diberikan akses internet padahal baik si Manajer Accounting maupun saya sendiri belum pernah melakukan otorisasi.
    `
    Selidik punya selidik, ternyata akses itu diberikan oleh staff saya yang dibujuk rayu oleh staff bagian Accounting. Kebetulan staff saya masih muda dan bujangan, mereka luluh hatinya gara-gara dibujuk oleh staff-staff Accounting yang bersikap kenes dan manis saat mengajukan permintaan secara lisan. Ada-ada saja. 
  4. Terburu-buru Mengambil Keputusan Strategis. Ini cerita dari staff-staff IT perusahaan yang mengikuti training Linux di tempat kami. Banyak dari mereka yang mengatakan bahwa banyak upaya migrasi sistem dari Windows ke Linux mengalami kegagalan di tempat mereka. Saat saya tanya bagaimana kok bisa gagal, mereka sampaikan bahwa proses migrasi dilakukan oleh staff IT atas pertimbangan moralitas dan idealisme, “Sebaiknya perusahaan jangan pakai produk bajakan”.
    `
    Pada implementasinya, keputusan seperti ini kerap hanya ditentukan oleh bagian IT tanpa dipayungi dengan Surat Keputusan (SK) dari level manajemen maupun dari direksi. Karena merasa pekerjaan jadi terganggu, upaya ini justru menuai protes dan akhirnya dihentikan oleh manajemen. Akibatnya sungguh fatal. Niat baik IT jadi bumerang, upaya implementasi diwaktu lain akan jauh lebih sulit karena pernah ada kejadian pahit kegagalan implementasi sebelumnya.
    `
    Niat baik, idealisme dan moralitas saja tidak cukup untuk melakukan implementasi suatu kebijakan, meski itu benar-benar ditujukan untuk kepentingan perusahaan/lembaga/instansi. Alangkah baiknya jika upaya implementasi sistem apapun direncanakan baik-baik. Tidak usah terburu-buru.
    `
    Proses bisa dimulai dengan diskusi  di level manajemen, dipayungi dengan aturan perusahaan dan mendapat persetujuan berupa SK dari direksi/manajemen disusul dengan  memberikan pelatihan, sosialisasi dan diikuti proses testing baru kemudian melakukan implementasi secara bertahap.
  5. Tidak Punya Perencanaan dan Kerangka Kerja.Seorang staff-apapun divisi dan bagiannya-yang ingin mengembangkan karir semestinya memiliki kemampuan ini. Membuat perencanaan dan kerangka kerja itu tidak mudah jika tidak dibiasakan, namun jika sudah terbiasa, hal ini akan banyak membantu analisa suatu pekerjaan sebelum masuk ke tahapan implementasi.
    `
    Perencanaan dan kerangka kerja juga sangat baik untuk dijadikan sebagai pertimbangan dalam menentukan estimasi waktu pelaksanaan, memilih prioritas yang hendak diambil dan memperkirakan kemungkinan hambatan yang timbul.
    `
    Jika anda punya usulan suatu perbaikan, alangkah baiknya jika tidak langsung dibicarakan secara lisan pada atasan maupun pada manajemen. Sebaiknya buatkan semacam makalah yang menguraikan latar belakang upaya perbaikan yang kita lakukan, kondisi saat ini, kondisi yang diinginkan, keuntungan yang bisa dicapai dan dilengkapi dengan tabel dan grafik yang menarik.
    `
    Atasan/manajemen akan lebih mudah menerima dan memahami usulan kita, kitapun mudah memberikan uraian penjelasan atas ide yang kita ajukan
Tulisan diatas memang saya sarikan dari pengalaman pribadi selama bekerja sebagai staff IT kemudian mendapat promosi ke level yang lebih tinggi dan memiliki beberapa staff, karenanya memuat pengalaman saya baik sebagai bawahan maupun sebagai atasan (meski dengan staff yang tidak terlampau banyak).
Jika ada beberapa uraian diatas yang dianggap kurang berkenan mohon jangan diambil hati. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa alasan diatas selalu pasti benar, karena saya juga punya banyak problem, hehehe… Saya pribadi berpendapat, jika kita bekerja sebagai staff IT dan ingin mengembangkan karir  ke arah yang lebih baik, sudah selayaknya kita melakukan review atas pekerjaan dan kebiasaan yang kita lakukan. Jangan putus asa jika belum dapat mencapai apa-apa yang dicita-citakan.


Sewa Ruang Kantor Jakarta Murah - Ultrabook Notebook Tipis Harga Murah Terbaik

5 Keuntungan Sistem Linux bagi para Administrator Windows Server

Bagi para network dan sysadmin, keberadaan Linux di dunia server bukanlah barang baru. Sebagian besar server-server internet malah berjalan menggunakan sistem server berbasis Linux. Meski demikian, banyak juga sysadmin dan network admin-terutama di Indonesia-yang selama ini secara total menggunakan sistem Windows Server tanpa pernah menyentuh atau mau tahu mengenai Linux server seumur hidupnya. 

Sebenarnya, apa sih pentingnya Linux server jika sistem berbasis Windows Server sudah berjalan sesuai harapan. Bukankah ada pameo dikalangan admin : “if it ain’t broken, don’t fix it” . If there is no evidence of a real problem, and fixing the “problem” would not effectively improve the system, then don’t waste time and energy (yours or anybody else’s) trying to fix it.
Berikut adalah beberapa pertimbangan mengapa Admin Windows Server bisa memetik manfaat dari keberadaan sistem operasi Linux meski tidak menggunakannya secara total untuk menggantikan Windows server :
  1. Emergency Rescue. Linux bisa menjadi penyelamat data berkat kemampuannya berjalan pada modus LiveCD dan berjalan pada memory sistem (CD bisa dikeluarkan). LiveCD yang ada banyak yang sudah dilengkapi dengan tools anti virus(plus kemampuan definition update secara life, tools partisi, FTP client, SSH, Rsync dan tools backup+restore, burning maupun kemampuan koneksi dengan internet secara simultan. Windows memang ada yang bisa berjalan pada modus LiveCD namun dari testing yang saya lakukan, fungsinya tidak sebanyak yang bisa disediakan oleh Linux LiveCD.

    Contoh kemampuan rescue adalah jika ada komputer Windows yang terinfeksi virus kelas berat. Jangankan untuk bisa menjalankan anti virus, sekedar untuk booting saja komputer berjalan lemot seperti siput. Belum lagi adanya kemampuan virus yang mampu bersifat resident sehingga menghapus virus yang sedang aktif menjadi tidak memungkinkan dan andaikata bisa dihapus, virus dapat secara otomatis membuat cloning dirinya sendiri.

    Pilihan yang lebih elegan adalah menyelamatkan data yang ada dan kemudian melakukan format total. Kita bisa saja memindahkan harddisk yang terinfeksi ke komputer Windows lain untuk discan namun selain repot, ada resiko Windows yang bersih malah jadi tercemar virus.

    Pada posisi ini, Linux bisa digunakan untuk menyelamatkan data Windows, baik untuk disimpan ke harddisk lain, ke dalam CD/DVD melalui proses burning, ke USB maupun ke penyimpanan data jaringan.
  2. Mengurangi Biaya Lisensi. Jika masih ragu menggunakan sistem Linux untuk menggantikan Windows server, kita bisa mencoba sistem Linux untuk menggantikan beberapa fungsi yang selama ini dikelola oleh Windows Server, padahal solusi Linux untuk masalah tersebut sudah sangat efektif dan efisien, misalnya untuk backup server, file server, mail server, proxy server, FTP server, web server dan lain-lain. Secara value mungkin penghematan belum terlalu signifikan, namun yang jelas tidak lagi ada biaya untuk Client Access License maupun lisensi sistem.Jika belum pernah menggunakan Linux sama sekali, coba saja beberapa service yang mudah dikonfigurasi, sambil bertahap mencoba mencari tahu sisi kekuatan Linux.
  3. Pelindung Sistem Windows. Mengingat struktur dan mekanisme sistem Linux yang lebih resisten (salah satunya karena menganut pola otorisasi akses file system), Linux bisa dijadikan front-end untuk server-server yang berhadapan dengan internet, misalnya mail server Linux bisa dijadikan media buffer atau front-end mail server yang dipublish keluar, sementara mail server Windows menjadi back-end bagi penggunaan internal. Contoh lainnya, server Linux bisa dijadikan media gateway bagi trafik akses data keluar maupun masuk ke dalam lingkungan sistem
  4. Media Lokalisasi Data Terinfeksi. Jika ada data yang tercemar/terinfeksi virus, menyimpannya pada share folder/harddisk berbasis Windows sama halnya memelihara virus tersebut untuk tetap aktif. Jika ada data masih tercemar virus dan belum sempat dibersihkan, kita bisa menggunakan sistem Linux sebagai lokasi penyimpan data. Karena virus sebagian besar hanya mampu berjalan pada sistem Windows, virus tersebut akan lumpuh selama berada didalam lingkungan Linux. Kita bahkan bisa dengan mudah menghapus file virus jika membukanya pada lingkungan Linux
  5. Server Virtualisasi untuk Windows. Jika menginginkan sistem Windows mudah dan cepat untuk dibackup dan restore, kita bisa menggunakan sistem berbasis Linux Server sebagai host virtualisasi. Xen Hypervisor, KVM, VirtualBox maupun VMWare dapat digunakan untuk menjalankan sistem Windows diatas Linux menggunakan skema virtual server. Skema ini minimal memberikan 2 keuntungan, yaitu resistensi server induk sekaligus memudahkan proses backup dan restore yang bisa diotomatisasi
Demikian beberapa keuntungan yang bisa dipetik jika ingin tahu kenapa seorang Admin Windows yang sistemnya baik-baik saja harus melirik atau berpindah ke sistem Linux. Jika ada pandangan lain atau saran terkait hal diatas silakan diskusikan melalui halaman komentar.
Mohon dipahami bahwa saya tidak mengatakan satu sistem operasi lebih baik dari sistem operasi lainnya. Pada hemat saya, admin yang baik harus mampu menjaga sistem yang dikelolanya berjalan dengan baik, apapun sistem operasi yang digunakan. Saya membatasi diri untuk tidak terlibat pada polemik zealots sistem operasi. Bahwa artikel ini menjelaskan soal benefit penggunaan Linux dan komparasinya terhadap Windows, itu karena judul dan tagline blog saya adalah Migrasi Windows Linux dan bukan sebaliknya. 



Sewa Ruang Kantor Jakarta Murah - Ultrabook Notebook Tipis Harga Murah Terbaik

Acer Aspire S3 - Ultrabook Notebook Tipis dengan Harga Murah dan Terbaik saat ini



Ultrabook Notebook Tipis Harga Murah Terbaik

Ultrabook notebook tipis harga murah terbaik akan menjadi topik dalam kesempatan kali ini, penulis ingin membahas tentang produk yang berbasis teknologi, yakni Ultrabook Notebook yang super tipis dengan harga murah namun kwalitasnya nomor satu.
Acer merupakan salah satu perusahaan besar yang bergerak di bidang teknologi tinggi, khususnya produk Notebook. Baru-baru ini telah diluncurkan Notebook paling tipis yang diberi nama Acer Aspire S3 dan diberi nama Ultrabook. Ultrabook ini menjadi notebook tertipis tapi tentunya harganya juga sangat terjangkau.

Ultrabook Notebook TipisHarga Murah Terbaik

, Dunia mobile computing segera berubah dengan hadirnya generasi terbaru ini. Setelah notebook dan netbook, kini hadirlah Ultrabook. Acer tentu saja tetap berada di depan dengan menyediakan salah satu Ultrabook pertama di dunia, Acer Aspire S3, yang diluncurkan akhir Oktober 2011. Ultrabook yang mendapatkan CES Innovations 2012 Design and Engineering Award Honoree for Featherweight Ultrabook ini, tersedia di jaringan retail Acer mulai dari Rp 7 juta-an.

Ultrabook adalah sebuah generasi terbaru yang akan segera membanjiri pasaran notebook saat ini. Idenya adalah menggabungkan kenyamanan penggunaan sebuah tablet dengan kemampuan produktivitas dari sebuah notebook yang bertenaga dan lebih tahan lama. Dimensi yang tipis, bobot ringan, instant on (langsung siap pakai saat dihidupkan), dan daya tahan baterai dalam kondisi standby adalah hal yang diidamkan dari sebuah tablet. Akan tetapi, kurangnya kemampuan produktivitas dari sebuah tablet membuatnya kurang handal saat diajak bekerja berat. Semua aspek inilah yang dipadu dalam sebuah Ultrabook.


Ultrabook Notebook Tipis Harga Murah Terbaik, ada 2 macam mode sleep yang dimiliki Acer Aspire S3, yakni Sleep dan Deep Sleep. Pengguna cuma butuh 1,5 detik untuk menghidupkan ultrabook dari mode Sleep dan hanya perlu 6 detik untuk menghidupkan dari mode Deep Sleep.

Fitur lain juga berkaitan dengan soal instan, yakni Instant Connect. Untuk mengakses internet, misal terhubung dengan fasilitas WiFi, hanya perlu 2,5 detik, Kecepatan ini 4 kali lebih cepat dari kecepatan notebook konvensional.

Fitur instan yang dimiliki ultrabook Acer Aspire S3 ini berhubungan dengan daya tahan baterai. Baterai Acer Aspire S3 bisa tahan selama 50 hari dalam mode Deep Sleep dan bisa tahan selama 7 jam untuk penggunaaan ultrabook secara normal.

Ultrabook Notebook tipis dan kwalitas terbaik ini, memiliki segudang keunggulan dari produk sejenisnya. Beberapa keunggulan itu antara lain :
Ultra Responsif : Terbangun dengan prosesor Intel® Core™ generasi ke-2 yang efisien energi, Ultrabook™ mengerti kebutuhan Anda dan menyala secepat kilat.
Ultra gaya : Dengan ketebalan kurang dari satu inci, Ultrabook™ merupakan perangkat ultra-tipis yang bisa di bawa pergi ke mana saja dan kapan saja bersama anda
Pengalaman menyerap secara visual : Dengan built-in visual dan multitasking pintar untuk performa dan kemampuan yang Anda harapkan.
Ultrabook Notebook tipis dari Acer Aspire S3 ini memiliki fitur dan merupakan teknologi tablet PC yang diciptakan sebagai bagian dari lifestyle anda.
Untuk menunjang setiap pekerjaan anda yang super banyak, pastinya anda menginginkan perangkat teknologi yang praktis dan fleksibel serta bisa dibawa kemana-mana. Atas dasar itulah Acer menciptakan produk Ultrabook Notebook tipis dengan harga yang terjangkau.


Acer Aspire S3, merupakan Ultrabook layar 13” HD dengan desain ultra aerodinamis berbahan metal yang lebih halus. Memiliki konektivitas cepat dan memiliki ketahanan baterai yang dikemas dalam ketebalan 13mm dan hanya memiliki bobot kurang dari 1,35Kg.
Keunggulan fitur Acer Aspire S3 ini adalah Acer Green Instant On, teknologi yang memungkinkan ultrabook untuk tetap menyala dalam keadaan sleep dan deep sleep, tapi memiliki ketahanan baterai hingga 50 hari. Dalam kondisi sleep, Acer Aspire ini hanya membutuhkan 2 detik saja untuk bisa beroperasi.
Acer Instant Connect, yaitu fitur yang dapat mendeteksi WiFi hanya dalam waktu 2,5 detik, 4 kali lebih cepat dari netbook konvensional. Jadi untuk membuka notebook hingga tersambung dengan internet, waktu yang dibutuhkan hanya dalam hitungan detik.

Adapun spesifikasi dari Ultrabook Notebook Acer Aspire S3 ini adalalah sebagai berikut:
  • Acer Green Instant On: resume dari keadaan Sleep hanya dalam 2 detik dan Deep Sleep dalam 6 detik. Dapat segera dioperasikan namun tetap awet baterai.
  • Acer Instant Connect: dapat mencari jaringan WiFi dalam 2,5 detik, 4 kali lebih cepat dari notebook konvensional.
  • Long Battery Life: dapat digunakan 6-7 jam berturut-turut atau hingga 50 hari dengan Acer Green Instant On.
  • HDMI® with HDCP support: transfer video 1080p HD video ke monitor, proyektor dan TV via kabel HDMI.
  • 320/500 GB HDD options: pilihan HDD yang cukup untuk menampung berbagai dokumen dan file multimedia.
  • Cool Airflow & Aluminum/Mg-Al alloy frame: frame memiliki durabilitas seperti baja namun ringan seperti plastik ABS, dilengkapi dengan desain airflow terbaru untuk efisiensi suhu.
  • 2nd generation Intel® Core™ processor (full range options) dengan Intel® HD Graphics 3000 untuk menunjang produktivitas.
  • Dolby® Home Theater® v4 & Integrated Acer Crystal Eye 1.3 MP Camera untuk keperluan multimedia.
  • 2-in-1 card reader yang men-support SD™ Cards and MultiMediaCard™ dan juga Bluetooth 4.0 untuk kemudahan pertukaran data.
  • Fact: Acer Aspire S3 masuk dalam kategori UltrabookTM, yaitu laptop dengan desain yang sangat tipis serta memiliki efisiensi baterai dan prosesor bervoltase rendah.

  • Prosesor: 2nd-generation Core i3, i5, i7 ultra-low voltage CPU
  • Layar: 13.3-inch HD LED, 1366 x 768
  • Konektor: 2x USB 2.0, HDMI-out port
  • Storage: Hybrid 320 GB HDD + 20 GB SSD (sebagai cache drive)
  • Card reader: mendukung SD Card dan MultiMediaCards
  • Webcam: Integrated Acer Crystal Eye 1.3MP camera and microphone
  • Konektivitas: Acer InviLink Nplify 802.11 b/g/n Wi-Fi CERTIFIED, Bluetooth 4.0 + HSR
  • Audio: Dolby Home Theater v4, combo audio jack
  • OS: Windows 7 Home Premium
  • Bodi: Magnesium-Aluminum alloy chassis and a lid with a fingerprint-free metal finish
  • Keyboard: Full-size Acer FineTip chiclet keyboard

Adapun harga dari Notebook Ultrabook Acer Aspire S3 ini adalah sebagai berikut, Untuk Ultrabook Notebook Acer Aspire S3 yang memiliki prosesor core i3 adalah Rp. 7.299.000,- dan untuk Ultrabook Notebook Acer Aspire S3 prosesor core i5 adalah Rp. 7.999.000,-
Demikian sedikit artikel Ultrabook Notebook tipis harga murah dan terbaik, semoga artikel ini tentunya dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Ingin info selengkapnya mengenai Ultrabook Notebook Acer Aspire S3 ini? silahkan kunjungi : Ultrabook Notebook Tipis Harga Murah Terbaik.

Related Links :

Popular Posts